Ahli Gizi Online

Diet untuk Penderita Hepatitis

Posted on: 27 Januari 2012

Maraknya kasus Hepatitis A menjadi perhatian berbagai pihak karena penyakit ini sangat mudah menular sehingga dapat mengurangi produktivitas kerja. Hepatitis merupakan peradangan hati akibat infeksi virus. Serangan virus hepatitis ini sangat cepat dan penularan umumnya melalui makanan dan minuman. Penderita hepatitis biasanya memiliki keluhan seperti kurang nafsu makan, lemas, mual, kadang-kadang muntah, kembung, diare, sakit kepala, dan kuning (jaundice). Pada hepatitis akut, mual dan kurang nafsu makan umumnya hanya dalam waktu singkat. Warna kuning (jaundice) disebabkan kadar bilirubin yang berlebihan, namun warna-warna kuning tersebut kadang-kadang tidak muncul.

 

Peran Terapi Gizi bagi penderita Hepatitis

Hati berperan dalam metaboisme karbohidrat, lemak, dan protein. Dalam keadaan normal, hati mengandung bermacam-macam enzim metabolisme sehingga seluruh proses metabolisme dan detoksifikasi racun/toksin terjadi di dalam hati. Hati juga memproduksi empedu yang disimpan dalam kantong empedu dan akan dikeluarkan jika diperlukan. Empedu dalam saluran pencernaan bermanfaat untuk absorpsi lemak dan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak yaitu vitamin A, D, E, dan K. Maka, jika kelainan atau kerusakan fungsi hati berpengaruh terhadap saluran cerna dan penggunaan makanan dalam tubuh sehingga sering menyebabkan gangguan gizi. Oleh karena itu, diperlukan diet khusus agar tidak memperberat fungsi hati yang sedang sakit.

 

Terapi Gizi pada Penderita Hepatitis

Diet khusus bagi penderita hepatitis dalam jumlah yang optimal membantu penyembuhan luka pada sel-sel hati dan memulihkan kekuatan hati. Selain itu, dapat meningkatkan regenerasi sel-sel hati yang rusak, memperbaiki penurunan berat badan akibat kurang nafsu makan, mual dan muntah, mencegah katabolisme protein, mencegah atau mengurangi ascites, dan koma hepatik.

Dalam diet Hepatitis mencakup pemenuhan zat-zat gizi yang diperlukan tubuh, seperti :

  1. Kalori dalam jumlah yang tinggi untuk mencegah pemecahan protein yang diberikan bertahap sesuai kemampuan penderita hepatitis. Kalori diberikan dalam jumlah tinggi karena adanya demam dan diperlukan untuk proses regenerasi jaringan serta untuk menambah persediaan tenaga. Kebutuhan kalori bersifat individual sehingga perlu perhitungan khusus.
  2. Protein perlu diberikan dalam jumlah yang tinggi agar dapat memperbaiki jaringan hati yang rusak dan mempertahankan fungsi-fungsi utama tubuh. Selain itu, protein merupakan agen lipotropik yang merubah lemak menjadi lipoprotein  agar dapat keluar dari hati untuk mencegah perlemakan hati.
  3. Pemberian lemak sesuai kondisi penderita hepatitis. Jika ada gangguan pencernaan lemak/steatorhea dan mual, gunakan lemak dengan asam lemak rantai sedang (Medium Chain Triglyserida) karena jenis lemak ini tidak membutuhkan aktivitas lipase dan asam empedu dalam proses absorpsinya. Selain itu, pemberian lemak harus dikurangi tetapi pembatasan terlalu ketat tidak dianjurkan karena akan mengurangi kelezatan makanan sehingga akan menurunkan nafsu makan. Lemak diberikan dalam mudah yang mudah dicerna atau dalam bentuk emulsi.
  4. Asupan Natrium diberikan dalam jumlah yang rendah, tergantung tingkat edema dan ascites
  5. Selain makanan, perlu suplemen B kompleks, vitamin K (untuk mencegah perdarahan), vitamin C dan Zink untuk mempercepat penyembuhan.
  6. Penambahan vitamin A dan D yang berlebihan sangat tidak dianjurkan karena akan memperberat fungsi hati yang sakit
  7. Bentuk makanan diberikan dalam bentuk lunak terutama bila ada mual dan muntah.

 

Dalam melaksanakan diet ini bersifat individual atau sangat bergantung pada kondisi kesehatan seseorang sehingga perlu berkonsultasi langsung dengan ahli gizi dan dokter. Selain diet, faktor lingkungan sangat berperan dalam pencegahan penyakit hepatitis seperti menjaga kebersihan makanan dan alat makan yang menjadi media penularan hepatitis. Oleh karena itu, untuk mengurangi resiko terkena hepatitis, sebaiknya kita dapat menerapkan pola hidup sehat seperti tidur minimal 8 jam sehari, berolahraga secara teratur, mengurangi stress, menjaga kebersihan makanan dan alat makan, makan makanan bergizi dalam jumlah seimbang sesuai kebutuhan dan menjaga hubungan sosial.

 

Sumber :

Almatsier, Sunita. 2005. Penuntun Diet. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Tuti Soenardi dan Susirah Sutardjo. 2003. Hidangan Sehat untuk Penderita Lever. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 89,091 hits

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 493 pengikut lainnya

Januari 2012
S S R K J S M
    Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Komentar Terbaru

hrd di Lowongan Nutritionist WRP Diet…
Andi Musdalifa Tenri… di Lowongan Nutritionist Euromedi…
%d blogger menyukai ini: